Feeds:
Posts
Comments

COBA perhatikan bahasa-bahasa iklan yang selalu menghadang mata dan menyergap pikiran ke mana pun Anda pergi, ataupun begitu menghidupkan televisi dan radio serta membuka surat kabar dan majalah.

Bahasa itu menunjukkan karakter bangsa, tetapi bisa juga berperan membentuk karakter bangsa. Untuk membuktikan postulat ini sangat mudah. Setiap anak memiliki bahasa ibu, dan pasti karakternya akan dipengaruhi nilai-nilai dan tradisi yang melekat dan terawetkan dalam bahasa ibunya. Dan, pola ini akan berlangsung turun-temurun.

Beruntunglah kita memiliki bahasa nasional, bahasa Indonesia, yang berkembang sangat cepat dan mengagumkan penyebarannya dari Papua hingga Aceh sehingga menggeser bahasa-bahasa daerah pada tataran nasional. Kemenangan bahasa yang berasal dari Melayu ini bisa saja dipandang negatif karena mengalahkan dan menggusur bahasa serta tradisi daerah. Namun, positifnya jauh lebih banyak ketimbang negatifnya.

Karakter bahasa Melayu yang lebih egaliter sejalan dengan semangat modernitas, dunia bisnis, dan watak bangsa pelaut. Hanya, sejak kultur dan pusat kekuasaan beralih ke wilayah pertanian yang dikomandoi Pak Harto dan kawan-kawan, gaya feodalisme keraton dan petani serta hierarki kemiliteran sangat kental memengaruhi dunia politik dan birokrasi Indonesia, sehingga proses demokratisasi tidak berlangsung mulus.

Bayangkan, andaikan penduduk Indonesia yang multietnis dan multibahasa serta tersebar di ribuan pulau tidak memiliki bahasa nasional, betapa mahal dan lambannya proses komunikasi sosial, perdagangan, keilmuan, dan politik. Mereka akan tinggal dalam pulau-pulau budaya, bahasa, dan agama yang terpisahkan dari yang lain.

Puber Handphone

Lewat tulisan ini, saya ingin mengajak Anda untuk sejenak mengamati dan memaknai bahasa-bahasa iklan yang tersebar di berbagai ruang publik.

Perjalanan bangsa ini mengalami berbagai loncatan budaya sehingga menimbulkan berbagai kekagetan. Bayangkan, berapa lama kita hidup dalam suasana penjajahan yang mendorong serangkaian pergolakan dan pemberontakan di berbagai wilayah Nusantara. Akibatnya, masyarakat kita mengidap karakter suka berontak, marah dan sedikit sekali memiliki kebiasaan membaca, menulis, dan melakukan penelitian ilmiah.

Masyarakat kita belum memiliki tradisi kuat sebagai “citizen” atau warga negara, tetapi lebih merasa sebagai bagian dari komunitas primordialnya. Keterikatan dan kesetiaan pada kelompoknya lebih menguat ketimbang kesadaran sebagai warga negara. Kecuali itu, tradisi bicara-dengar lebih kuat ketimbang tulis-baca. Parahnya lagi, ketika tradisi tulis-baca belum kuat, tiba-tiba dilanda gelombang budaya baru yang dibawa oleh dunia televisi yang kemudian menciptakan gaya hidup baru di sebagian masyarakat, yaitu menonton dan gosip.

Coba saja lakukan penelitian, berapa jam televisi dihidupkan, acara apa saja yang paling disenangi, lalu pengaruh apa yang dimunculkan, pasti sangat menarik dan manfaat untuk direnungkan. Beberapa hari lalu, Prof Dr Fawzia Aswin Hadis, pakar psikologi, bercerita dan membuat saya terperangah. Pembantu rumah tangganya menghabiskan gaji bulanannya hanya untuk membeli pulsa handphone (HP).

Bahkan, sempat mengutang untuk mengisi pulsa HP-nya yang sudah habis. Biasanya mereka sambil masak atau menonton televisi sambil ngobrol dengan temannya lewat HP. Atau sambil senyum-senyum membaca dan saling berbalasan pesan singkat lewat layanan SMS. Tampaknya, komunitas yang senang ngobrol dan berbicara serta tukar gosip melalui HP semakin meluas, tidak saja di kalangan politisi di Senayan, melainkan sudah merambah sampai ke lingkungan para pembantu rumah tangga.

Bagi para produsen dan pengusaha pulsa serta jasa telekomunikasi, tren ber-HP ria ini tentu merupakan pasar dan tambang emas yang mendatangkan keuntungan luar biasa. Diperkirakan, biaya iklan bisnis ini bisa mencapai Rp5 triliun setahun. Kalau perkiraan ini benar, sungguh merupakan angka yang fantastis! Dan yang membayar iklan sebesar itu, siapa lagi kalau bukan masyarakat pengguna telepon.

Dari pengalaman berkunjung dan mengikuti berbagai pertemuan di luar negeri, kesan saya masyarakat Indonesia paling menonjol dan senang ngobrol atau ber-SMS dengan HP, di mana pun berada. Bahkan, waktu salat atau pertemuan resmi pun sering kali dering HP-nya berbunyi sehingga mengganggu suasana.

Ada lagi yang berbicara dengan keras dan tertawa-tawa di tengah forum pertemuan sehingga mengganggu yang lain. Lucunya, ini dilakukan mereka yang berpendidikan tinggi. Di antara iklan pulsa berbunyi: Ngobrol sampai puassss….!!!. Iklan ini merupakan kalimat mantra pengusaha pulsa, dan juga mencerminkan budaya kita yang memang lebih senang ngobrol, senang berwacana, ataupun pidato, tetapi kurang produktif dalam berkarya nyata.

Ini juga sejalan dengan jumlah sarjana kita yang didominasi ilmuwan sosial yang lebih senang berdebat dan berteori terus. Penggunaan HP juga masuk pada wilayah politik dan jaringan pekerja demonstrasi. Setiap hari berseliweran pesan SMS campur aduk antara yang benar dan salah, yang fiktif dan realitas, antara nasihat bijak dan fitnah keji. Semua ini tentu tidak bisa dilarang, tetapi fenomena itu merupakan cerminan kualitas masyarakat dan peradaban bangsa kita.

Lama-lama, bunyi iklan itu tidak saja: Ngobrol sampai puasss….!!!, tetapi berkembang menjadi: Demonstrasi terus sampai lelah!, Tiada hari tanpa demonstrasi! dan seterusnya. Di lingkungan pelajar, kualitas berbahasa cukup memprihatinkan. Padahal, berbahasa dan berpikir tidak bisa dipisahkan. Jika bahasa kacau, pikirannya ikut kacau, dan ujungnya tindakannya juga akan kacau karena pikiran merupakan pangkal perbuatan.

Menurut teori pendidikan, dan ini saya alami sendiri, pembentukan watak yang efektif adalah melalui role model yang bisa dilihat maupun melalui role model yang digambarkan dalam novel. Lewat novel, seseorang diajak rekreasi dan berimajinasi ke sebuah dunia makna, tanpa harus pergi jauh dan mahal secara fisik. Novel juga sarana rileksasi setelah penat bekerja.

Namun sangat disayangkan, tradisi membaca novel di kalangan siswa ataupun mahasiswa sangat miskin. Waktu dan perhatian mereka tersita untuk menghafal dan mempersiapkan diri menghadapi ujian yang lebih memerlukan otak kiri. Sementara novel merupakan konsumsi otak kanan, mengajak kita berimajinasi dan mengapresiasi indahnya alam seraya merayakan kehidupan.

Lagi-lagi, yang mudah terdengar adalah keluh kesah, pesimisme, caci maki, dan sejenisnya. Dan salah satu hiburannya, bermain SMS atau nongkrong di depan televisi. Ada acara televisi yang jam tayangnya setiap hari lebih dari tiga jam, sedangkan pesan edukasinya sangat miskin. Sebagai guru dan orangtua, kita pantas prihatin dan mesti membantu pertumbuhan anak-anak kita.

Mereka semakin tidak paham budaya dan bahasa daerah yang mengandung banyak wisdom, pitutur, dan nilai luhur, sementara muatan bahasa Indonesia yang mereka akrabi tidak menyajikan nilai-nilai luhur yang mendorong imajinasi dan model. Mereka kering dari bacaan bermutu, terutama novel-novel, karena waktunya habis untuk ngobrol atau sibuk mengikuti bimbingan belajar untuk menghadapi UN (ujian nasional) yang dijadikan momok itu.

Saya kadang iri kalau jalan-jalan ke luar negeri, baik pelajar, orangtua, maupun turis, ke mana pun berada selalu menenteng dan membaca buku, termasuk di pesawat terbang. (*)

Komaruddin Hidayat
Rektor UIN Syarif Hidayatullah (//mbs)
www.okezone.com

Naiknya harga BBM…

Kalo bicara mengenai kenaikan harga BBM, udah pasti ada yang pro ada yang kontra…dan itu bisa dimaklumi karna tiap orang punya sudut pandang dan punya kepentingan sendiri…jadi wajar aja kalo beda…iya nggak??

Saat harga minyak dunia hampir mendekati angka 100 dollar per barel, banyak kalangan yang mulai bersuara agar pemerintah menaiikan harga BBM agar beban tanggungan subsidi negara terhadap BBM berkurang. Dan setelah agak lama, harga minyak dunia udah lebih dari 120 dollar per barel akhirnya pemerintah membuat keputusan terakhir yang cukup berat dengan menaiikan BBM pada 23 Mei kemarin. Alasannya naiknya harga minyak dunia tersebut terpaut jauh dari APBN 2008 yang mengasumsikan 60 dolar per barel dan dirubah menjadi 95 dolar per barel. menurut itung-itungan pemerintah subsidi untuk BBM ini bisa sekitar 250T (jika aku ga salah sih..), sungguh suatu hal yang luar biasa, dimana uang sebanyak itu juga dinikmati orang2 menengah ke atas (yang punya motor) dan yang kaya (yang punya mobil pribadi)..sedangkan orang2 miskin cuma menikmati untuk minyak tanah… Sebelum diputuskan kenaikan harga BBM Presiden SBY bahkan menyerukan kepada semua pihak serta seluruh elemen masyarakat agar melakukan penghematan..karena apa? karena kita ini termasuk bangsa yang boros.. ga jauh2..coba lihat di sekitar kita, betapa sering membiarkan tv nyala saat ga ada yang nonton, pergi ke tempat dekat aja pake kendaraan bermotor, lampu kadang menyala di siang hari, komputer masih nyala meski ga dipake bekerja, belum lagi penggunaan AC yang berlebihan..boros ngga tuh? dan semuanya tetep bersumber pada yang namanya BBM alias Bahan Bakar Muinyaak… dan ternyata kenaikan BBM ini bukan hanya kebijakan yang dilakukan pemerintah Indonesia, tapi negara lain juga begitu…contoh malah baru2 ini Malaysia juga menaikkan harga BBM sebesar 40%,… lebih tinggi dari persentase kenaikan Indonesia yang sekitar 24%an…

Continue Reading »

Awal saya menulis tema ini adalah pada hari ketiga saya berada di Bogor untuk mengikuti Pelatihan Komunikasi Data yang diselenggarakan oleh Pusat Data dan Informasi Departemen Kesehatan RI.Pembukaan dilaksanakan pada hari Selasa, 25 Maret 2008 oleh Kapusdatin yang diwakili oleh Kabag TU Pusdatin.

Pelatihan ini bagi saya merupakan pelatihan pertama di tahun ini, sebab sampai sekarang DIPA APBN belum turun sehingga jarang sekali ada tugas luar daerah. Continue Reading »

JANGAN remehkan kebiasaan mendengkur. Terlebih jika sering terbangun malam karena napas terhenti mendadak. Kondisi tersebut sudah bukan lagi mendengkur biasa, tetapi obstructive sleep apnea (OSA).

Menurut dr Antonius HW SpTHT, OSA merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan tersumbatnya saluran napas. Sumbatan itu bisa terjadi akibat penutupan saluran napas oleh pembesaran jaringan lunak -seperti tonsil-selama tidur. Bisa juga karena lidah atau otot-otot saluran pernapasan atas mengalami relaksasi berlebih.

Lebih lanjut, penutupan jalan napas akan menghalangi udara masuk ke paru-paru sehingga napas pun terhenti. Akibatnya, tubuh yang berusaha mendapatkan suplai udara akan membuat si pengidap bangun secara mendadak dengan keadaan terengah-engah. “Kondisi ini berlangsung dan berulang sepanjang malam. Namun, biasanya tidak disadari,” ujar spesialis telinga hidung dan tenggorok RS Adi Husada Undaan Surabaya tersebut.

Lantaran kualitas tidur kurang, orang-orang dengan OSA tak jarang merasa sangat mengantuk saat pagi. Kepala kerap terasa sakit, merasa depresi, susah berkonsentrasi hingga mengalami disfungsi seksual. Celakanya, penyumbatan yang menurunkan kadar oksigen dalam darah itu bisa menyulut masalah kesehatan serius. Mulai peningkatan risiko serangan jantung, stroke, hingga darah tinggi.

Bentuk perawatan OSA bisa dengan jalan pembedahan, penggunaan alat bantu oral, atau pengubahan posisi tidur. Jalan terakhir itulah yang paling mudah dan murah. Selama tidur, posisi tubuh dimiringkan untuk menghindari sumbatan. “Kalau kesulitan mempertahankan posisi ini bisa dengan menjahitkan bola tenis di bagian kerah baju bagian tengkuk. Dengan begitu, tubuh akan miring terus dan tidak akan ngorok,” tandasnya. (idikutip dari www.jawapos.com/3jan2008)

POLA hidup diyakini memengaruhi kesehatan seseorang. Demikian pula kesehatan organ reproduksi. “Perempuan atau laki-laki perokok perlu waspada. Sebab, kebiasaan itu bisa menyebabkan infertil (gangguan kesuburan),” terang Prof dr Samsulhadi SpOG(K).

Untuk perempuan perokok yang menghabiskan 20 batang rokok tiap hari, angka kesuburannya turun 25 persen. Bagi perempuan perokok berat yang menghabiskan lebih dari 20 batang rokok tiap hari, kemampuan reproduksinya hanya tersisa 57 persen.

Kondisi serupa dialami pecandu kopi. Kafein di dalam kopi dapat memengaruhi kesuburan seseorang. Seseorang dianggap kecanduan kopi kalau setidaknya dia minum lebih dari tujuh gelas per hari. “Kopi, narkoba, dan minuman beralkohol dapat menurunkan mutu telur,” ujar dr Ashon Sa’adi SpOG.

Selain itu, kafein mengganggu endometrium. Namun, kopi tidak berpengaruh pada tuba falopii. “Bisa hamil, namun risiko keguguran juga besar,” tambah Ashon. Kalau memang ingin hamil, konsumsi kopi harus dibatasi. Cukup satu cangkir dalam sehari.

Dia menambahkan, usia ikut berperan pada tingkat kesuburan seseorang. Perempuan berada pada kondisi paling subur ketika usianya di bawah 25 tahun. Menjelang usia 30, tingkat kesuburannya semakin menurun dan berpeluang lebih besar mengalami infertilitas. (dikutip dari www.jawapos.com/3 januari 2008)

Banjir yang melanda kawasan eks-Karesidenan Madiun, Jawa Timur, kemarin membawa korban. Sekitar 25 orang dinyatakan hilang terbawa arus Kali Madiun di Desa Jati, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun. Itu terjadi setelah jembatan penghubung Desa Jati dan Semen (Kecamatan Takeran, Magetan) putus karena diterjang air bah.

Dua korban yang sudah teridentifikasi ialah Basuki, 16, warga Desa Purworejo, Kecamatan Kebonsari, dan Alif, 16, warga Dusun Dodol, Desa Petungrejo, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan. “Korban yang sudah pasti hilang terbawa arus baru dua. Tapi, menurut saksi mata, jumlahnya lebih dari 25 orang,” terang Kapolres Magetan AKBP Bambang Sunarwibowo saat dikonfirmasi melalui AKP Sunarta, Kapolsek Takeran, di lokasi kejadian. Continue Reading »

SEKILAS TENTANG AKU

Hi everyone…

kenalin, namaku Eko Rahman Setiawan…aku lahir sekitar 26 tahun yang lalu dari tahun 2007 sekarang. aku lahir di sebuah kota di tengah-tengah provinsi Jawa Timur NKRI, aku yakin ga akan memisahkan diri dari negara kita tercinta ini, tepatnya di Kab. Jombang… tau kan? kalo tau Jombang pasti pikirannya langsung tertuju ke Gus Dur, Emha Ainun Najib dan yang tak kalah populernya adalah banyak Pondok Pesantren yang telah melahirkan tokoh besar di negeri ini..yap.. itulah Jombang, kota yang menurutku paling nyaman, tenang, dan sederhana…tapi ga ketinggalan lho. masa kecil sampai SMA aku masih tetap di seputaran Jombang meski pernah selama 3 tahun aku masuk di Ponpes…habisnya aku nakal banget,hehehe….

lulus SMA aku melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Negeri favorit yang sampai sekarang masih membuatku bangga pernah merasakan suka dukanya kuliah di sana..aku kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga di Surabaya.

Begitu lulus aku diterima sebagai Pegawai Negeri di Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo…juauh amat!! yap, kalo udah kenal aku pasti critain nanti, hehe

Kayaknya ini dulu sedikit perkenalan dariku, namanya juga sekilas..jadi ya jangan banyak-banyak…OK, thanks bagi yang membacanya

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!